Karakter

Mungkin hanya sedikit orang yang mengerti dengan jalan pikiran ini, atau mungkin tidak sama sekali. Aku tau apa yang aku inginkan, begitulah orang dalam lajur pikirannya masing-masing. Diam, berhenti, dan mulai berpikir. Kadang juga tak menyadari kalau aku sedang berpikir. 

Kadang aku mencoba masuk dalam batas perasaannya untuk tau dan mencoba peka dengan perasaan halusnya. Tapi kemudian aku gagal untuk menyentuh dengan kata-kata halusku setelah mereka yang disamping tanpa tau arah dan memaksa masuk jauh kedalam perasaannya. Dan orang-orang macam itu yang mungkin bertolak belakang dengan karakter ini.

Aku sadar aku punya jiwa yang keras. Tapi aku juga sadar kerasnya jiwa bisa dijinakkan dengan sedikit meredam kata-kataku. Aku bukan pendiam, aku hanya mencoba diam. Diam adalah solusi terbaikku, begitulah sampai sekarang yang memenuhi kepalaku. 

Uraian Hadirnya

Kala itu aku tampak biasa, persis seperti biasa kehidupanku dulu hingga sekarang. Tidak terlintas perasaan semacam ini di kepalaku, tapi sekarang begitu membebani pundakku. Sebetulnya sudah dari awal aku tersadar kalau dirimu itu begitu menarik, tapi untuk orang sepertiku, semenarik apapun lawan jenisku begitu susah untuk mengungkapkannya. Dan inilah yang terus dan terus menumpuk hingga sekarang. Mulai dari cewek itu, cewek itu, dan cewek itu. Semunya hanya hilang di dalam ingatan. Oh betapa sulitnya mengungkapkan.

Cewek termanis yang pernah aku temui, cewek dengan genggaman lembutnya yang pernah memegang tangan ini. Tatapannya membuatku semakin bungkam. Dia menghipnotisku dengan berjuta pesona dan auranya yang tampak membungkus setiap keindahan dirinya.

Sedikit perasaan sesal dengan sikap cuek yang pernah kutunjukkan dulu. Saat itu aku sadar dia memberiku kode-kode manis, membungkus harapan-harapanya agar aku tau kalau dia menyukaiku. Tapi apa? Bodoh memang diri ini. Sedikitpun tak ingin membalas sapaan hangatnya itu. Huh ! Aku malu, aku pengecut untuk hal semacam ini.

Sudahlah, kupikir saat itu ada baiknya kusimpan sendiri kekagumanku itu, suatu saat pasti akan hilang. Ya benar saja, hari demi hari, bulan demi bulan perasaan itu mulai memudar. Tampaknya aku berhasil. Dan berhasil move on dari perasaan yang tidak terungkapkan itu.

Kali ini aku sama sekali tak menyadarinya, perasaan itu ternyata seperti roda. Terus menerus berputar, menjauh dan semakin menjauh tapi akhirnya kian mendekat. Dan benar perasaan itu kini kembali. Inikah galau ?

Kali ini aku melihat lagi wajah itu, wajah yang dulu pernah menyapaku dengan belaian yang keluar dari mulutnya, wajah yang pernah tersenyum berbeda dari senyumnya untuk yang lain. Tapi sekarang begitu berbeda, menatapku begitu cueknya, tamapak senyum tak selebar kala itu. Ah miris lagi rupanya hati ini.

Aku mencoba memberanikan diri, masuk melalui celah seadanya. Memanfaatkan sedikit celah itu untuk kemudian meyakinkannya kalau aku juga menyukainya. tapi ?
Sekarang aku yakin perasaannya bukanlah yang dulu. Dia terlalu hambar untukku sekarang. Lima kali kukirimkan sms untuknya cuma satu yang dibalas. Berapa banyak kukirimkan tweet untuknya cuma satu tanggapannya, "iya". Kalian tau ini sangat dan sangat menyiksa.

Terserah kalian bilang aku apa. Tapi inilah perasaanku untuk cewek yang benar-benar ku impi-impikan.
Tak ada yang patut untuk disalahkan selain perasaan dingin yang selalu hadir saat mereka memberiku kode. Ingin ku ulang kesempatan itu, kesempatan saat dia memegang tangan ini dan kemudian akan kubalas dengan genggaman eratku agar dia tau kalau perasaan ini juga sama. Kesempatan saat dia menatapku, kemudian akan kubalas dengan tatapan penuh harapan kalau aku juga mengharapkannya. Kesempatan saat dia tersenyum kepadaku, lalu kupasang senyuman penuh arti agar dia tau rasaku untuknya penuh dengan makna. Tapi itu hanya inginku. Sebuah keinginan besar yang tentunya sangat mustahil untuk ku wujudkan.

Aku ingin menyimpannya, sebuah perasaan yang tidak terungkapkan ini. Tapi kadang aku bertanya untuk apa aku mengingatnya, untuk apa aku menyimpannya yang justru hanya bisa membuatku terpuruk tanpa alasan. 
Yang ingin kulakukan sekarang hanyalah mengungkapkan, soal jawaban aku sudah tidak begitu peduli. Pikirku yang penting aku bisa memberitahunya kalau rasa ini hanya untuknya. Yang ku inginkan hanya dia, tapi hanya Tuhan yang tau kelak aku bersamanya atau tidak. Aku tak ingin memaksakan takdir. Kebahagiaan itu miliknya. Akan kulihat kamu dari kejauhan sana. 

Untuk kamu yang tidak kusebutkan namanya.




Abstrak Di Jiwa

Senja baru saja menghilang, awan biru kembali kelam. Bukan hujan tapi begitulah fase yang harus dilaluinya. Bunyi jangkrik kian menggelitik menambah khas irama daerah pinggiran. Terasa tenang, tapi sepi dan tenang tak begitu jauh berbeda. Deru angin malam membuat badan semakin manja untuk cepat berlabuh dalam keheningan. Ah tapi kalau selalu begini, malam - malam akan selalu menjadi malam yang pendek. Sedikit mengubah kemonotonan dikala malam, ku ambil sebuah laptop dan mulai ku tuliskan sedikit demi sedikit alunan - alunan yang ada di jiwa.

Hidup bukanlah soal mimpi, hidup bukan soal kemana kita harus melangkah. Tapi menurutku hidup begitu simpel. Kita hanya perlu meniti proses - proses yang kita lalui dengan senyuman, sedikit coretan kegalauan, dan kemudian kita tersenyum lagi menertawakan apa yang kita galaukan. 

Mimpi ? Ya mimpi memang perlu, tapi daripada kita sibuk memikirkan berjuta mimpi yang tak ada habisnya lebih baik kita jalani apa yang ada di depan mata, melakukannya dengan cara terbaik. Dan cara itulah nanti yang akan membawa kita ke tempat terbaik, melebihi mimpi terbaik kita.

Aku hanyalah seorang pemikir hal kecil tapi bukan orang kecil. Aku juga bukan orang besar penuh dengan kata - kata pembesar. Aku hanya seorang pengagum hal kecil, unik, dan tak biasa. Sedikit aneh karena orang sepertiku mungkin jarang kalian temukan. Pikiranku penuh tanda tanya, tapi bingung kemana aku bertanya. Pikiranku bukan tentang logika tapi imajinasi yang menggelora. Kadang kubandingkan secuil imajinasi ini dengan logika yang ada, otak ini bertanya - tanya, "mungkinkah?"

Perlu waktu untuk dapat menjawabnya bahkan kebanyakan aku sendiri bingung. Apakah diri ini aneh ?
Ya memang aneh untuk orang yang tak biasa dengan pikiran - pikiran nyeleneh macam itu. Ini hanya sedikit potongan pikiran kecil yang pernah terbayang, jika diteruskan kalian akan bingung dan menilai aku tak lebih dari seorang gila yang memposting pikiran ngawurnya pada sebuah blog. Tapi hanya orang gila yang yakin kalau ada orang gila yang bisa bermain blogger :)

Hmm, inilah kehidupanku. Bebas dalam ekspresi. Tanpa batas. Tunggu dulu, bukan tanpa batas. Aku hanya mencoba melewati batasan - batasan itu. Kita tidak akan berkembang jika terus berdiri dibelakang batas. 

Lewati batasan yang ada pada dirimu, maka kamu akan menemukan sebuah rasa bangga yang tak ternilai harganya. Kita hanya perlu berkompetisi dengan diri kita, melawan apa yang berat untuk kita lakukan. Tak usah mencari lawan untuk dengan siapa kamu berkompetisi, cukup dengan dirimu. Rasakan, nikmati, ternyata dirimu sendiri adalah lawan terberatmu.

Cukup satu poin tadi, lewati batasan - batasan yang pernah kau tanam dan lakukan yang terbaik !

Saat PBL Jakarta-Bandung (Photos)

Sekitar Monas

Yang ini lupa lagi dimana :D
Monas
Trans Studio Bandung
Trans Studio Bandung

Salam Untuk Mereka

Hidup ini indah, tapi tak semudah seperti menulis dengan pena, tak semudah seperti menulis di atas kertas. Banyak hal yang hari ini bisa kita lakukan, tetapi bukan besok. Besok adalah bayangan, harapan, layaknya seberkas sinar di ujung jalan.

Hari ini aku hanya dapat mengingatnya, membayangkannya, dan menuliskannya untuk sekilas dapat mendilusikan semua yang masih terasa berat di hati. Ya memang semua sudah terikhlaskan, tapi semua mimik di wajah ini sepertinya palsu. Berjalan seakan tanpa beban, tapi jiwa ini masih menengok ke belakang.

Hidup ini indah, penuh semua hal yang tak terduga. Setahun yang lalu masih jelas wajah mereka, bahkan sekarang masih sangat tidak jauh berbeda. Aku hanya berharap ini adalah mimpi, tapi sampai sekarang aku rupanya masih tidak bisa terbangun dari mimpi, sampai ku yakin bahwa ini memanglah nyata.

Sedikit pedih mengingatnya, ya terasa pedih. Ini bukan tulisan penuh rasa kasihan. Aku hanya ingin mengungkapkannya tapi tak ada yang lebih memuaskan selain aku yang menulisnya sendiri. 

Siapa yang tidak ingin membahagiakan mereka yang telah melahirkanmu, merawatmu, bahkan menjagamu sampai sebesar dan seegois seperti sekarang ini. Aku hanya ingin mereka melihat ketika aku sudah mulai menjadi "orang". Tapi sekarang... 

Aku sadar mereka sudah menitipkan hal besar ini kepadaku dan tentunya ini tidak akan putus begitu saja. Aku membahagiakan mereka dengan caraku sekarang dan semoga mereka melihat serta tersenyum untuk anaknya ini.

Aku masih berharap ini hanyalah mimpi, aku membayangkan sepertinya aku yang sedang tertidur lelap untuk diharapkan bangun kembali oleh mereka. Aku membayangkan didepan wajahku yang tertidur lelap tampak tangan mereka memegang halus wajah ini. aku hanya merasakannya seperti itu. Dan andai itu nyata, itupun sudah lebih dari cukup.

Dulu aku membayangkan bagaimana jika salah satu dari mereka sudah tidak bersamaku lagi, sepertinya aku tidak akan bisa menjalani ini semua. Tapi benar ternyata, Tuhan memberikan cobaan lebih dari yang kubayangkan, bahkan tak terlintas sedikit pun di benakku untuk terpikirkan dan aku bisa berjalan setegar ini hingga sekarang.

Mereka hidup bersama, mereka juga pergi bersama. Itulah takdirnya. Yang tersisa kini hanyalah aku dan berjuta kenangan indah hidup mereka yang tak bisa tergantikan oleh apapun. Semua rasa sakit yang ku rasa sekarang ini sudah tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan perasaan saat kehilangan mereka. Mungkin inilah cara Tuhan menguatkanku, membuatku tegar, membuatku bisa memandang jauh kedepan.

Tuhan memang adil. Sampaikan salamku untuk mereka disana. Aku selalu berharap mereka mendo'akan anak-anaknya disini. aku selalu berharap untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Tuhan tenangkan mereka disana, nyamankanlah kehidupannya disana. Tuhan ku titipkan do'a dan salamku untuk mereka.



Hj. Nurlaina Mahnita
Joko Suharjo

Copyright © 2012 Ujung Pena Sang Penikmat KehidupanTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.