Hidup ini indah, tapi tak semudah seperti menulis dengan pena, tak semudah seperti menulis di atas kertas. Banyak hal yang hari ini bisa kita lakukan, tetapi bukan besok. Besok adalah bayangan, harapan, layaknya seberkas sinar di ujung jalan.
Hari ini aku hanya dapat mengingatnya, membayangkannya, dan menuliskannya untuk sekilas dapat mendilusikan semua yang masih terasa berat di hati. Ya memang semua sudah terikhlaskan, tapi semua mimik di wajah ini sepertinya palsu. Berjalan seakan tanpa beban, tapi jiwa ini masih menengok ke belakang.
Hidup ini indah, penuh semua hal yang tak terduga. Setahun yang lalu masih jelas wajah mereka, bahkan sekarang masih sangat tidak jauh berbeda. Aku hanya berharap ini adalah mimpi, tapi sampai sekarang aku rupanya masih tidak bisa terbangun dari mimpi, sampai ku yakin bahwa ini memanglah nyata.
Sedikit pedih mengingatnya, ya terasa pedih. Ini bukan tulisan penuh rasa kasihan. Aku hanya ingin mengungkapkannya tapi tak ada yang lebih memuaskan selain aku yang menulisnya sendiri.
Siapa yang tidak ingin membahagiakan mereka yang telah melahirkanmu, merawatmu, bahkan menjagamu sampai sebesar dan seegois seperti sekarang ini. Aku hanya ingin mereka melihat ketika aku sudah mulai menjadi "orang". Tapi sekarang...
Aku sadar mereka sudah menitipkan hal besar ini kepadaku dan tentunya ini tidak akan putus begitu saja. Aku membahagiakan mereka dengan caraku sekarang dan semoga mereka melihat serta tersenyum untuk anaknya ini.
Aku masih berharap ini hanyalah mimpi, aku membayangkan sepertinya aku yang sedang tertidur lelap untuk diharapkan bangun kembali oleh mereka. Aku membayangkan didepan wajahku yang tertidur lelap tampak tangan mereka memegang halus wajah ini. aku hanya merasakannya seperti itu. Dan andai itu nyata, itupun sudah lebih dari cukup.
Dulu aku membayangkan bagaimana jika salah satu dari mereka sudah tidak bersamaku lagi, sepertinya aku tidak akan bisa menjalani ini semua. Tapi benar ternyata, Tuhan memberikan cobaan lebih dari yang kubayangkan, bahkan tak terlintas sedikit pun di benakku untuk terpikirkan dan aku bisa berjalan setegar ini hingga sekarang.
Mereka hidup bersama, mereka juga pergi bersama. Itulah takdirnya. Yang tersisa kini hanyalah aku dan berjuta kenangan indah hidup mereka yang tak bisa tergantikan oleh apapun. Semua rasa sakit yang ku rasa sekarang ini sudah tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan perasaan saat kehilangan mereka. Mungkin inilah cara Tuhan menguatkanku, membuatku tegar, membuatku bisa memandang jauh kedepan.
Tuhan memang adil. Sampaikan salamku untuk mereka disana. Aku selalu berharap mereka mendo'akan anak-anaknya disini. aku selalu berharap untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Tuhan tenangkan mereka disana, nyamankanlah kehidupannya disana. Tuhan ku titipkan do'a dan salamku untuk mereka.
Hj. Nurlaina Mahnita
Joko Suharjo