Uraian Hadirnya

Kala itu aku tampak biasa, persis seperti biasa kehidupanku dulu hingga sekarang. Tidak terlintas perasaan semacam ini di kepalaku, tapi sekarang begitu membebani pundakku. Sebetulnya sudah dari awal aku tersadar kalau dirimu itu begitu menarik, tapi untuk orang sepertiku, semenarik apapun lawan jenisku begitu susah untuk mengungkapkannya. Dan inilah yang terus dan terus menumpuk hingga sekarang. Mulai dari cewek itu, cewek itu, dan cewek itu. Semunya hanya hilang di dalam ingatan. Oh betapa sulitnya mengungkapkan.

Cewek termanis yang pernah aku temui, cewek dengan genggaman lembutnya yang pernah memegang tangan ini. Tatapannya membuatku semakin bungkam. Dia menghipnotisku dengan berjuta pesona dan auranya yang tampak membungkus setiap keindahan dirinya.

Sedikit perasaan sesal dengan sikap cuek yang pernah kutunjukkan dulu. Saat itu aku sadar dia memberiku kode-kode manis, membungkus harapan-harapanya agar aku tau kalau dia menyukaiku. Tapi apa? Bodoh memang diri ini. Sedikitpun tak ingin membalas sapaan hangatnya itu. Huh ! Aku malu, aku pengecut untuk hal semacam ini.

Sudahlah, kupikir saat itu ada baiknya kusimpan sendiri kekagumanku itu, suatu saat pasti akan hilang. Ya benar saja, hari demi hari, bulan demi bulan perasaan itu mulai memudar. Tampaknya aku berhasil. Dan berhasil move on dari perasaan yang tidak terungkapkan itu.

Kali ini aku sama sekali tak menyadarinya, perasaan itu ternyata seperti roda. Terus menerus berputar, menjauh dan semakin menjauh tapi akhirnya kian mendekat. Dan benar perasaan itu kini kembali. Inikah galau ?

Kali ini aku melihat lagi wajah itu, wajah yang dulu pernah menyapaku dengan belaian yang keluar dari mulutnya, wajah yang pernah tersenyum berbeda dari senyumnya untuk yang lain. Tapi sekarang begitu berbeda, menatapku begitu cueknya, tamapak senyum tak selebar kala itu. Ah miris lagi rupanya hati ini.

Aku mencoba memberanikan diri, masuk melalui celah seadanya. Memanfaatkan sedikit celah itu untuk kemudian meyakinkannya kalau aku juga menyukainya. tapi ?
Sekarang aku yakin perasaannya bukanlah yang dulu. Dia terlalu hambar untukku sekarang. Lima kali kukirimkan sms untuknya cuma satu yang dibalas. Berapa banyak kukirimkan tweet untuknya cuma satu tanggapannya, "iya". Kalian tau ini sangat dan sangat menyiksa.

Terserah kalian bilang aku apa. Tapi inilah perasaanku untuk cewek yang benar-benar ku impi-impikan.
Tak ada yang patut untuk disalahkan selain perasaan dingin yang selalu hadir saat mereka memberiku kode. Ingin ku ulang kesempatan itu, kesempatan saat dia memegang tangan ini dan kemudian akan kubalas dengan genggaman eratku agar dia tau kalau perasaan ini juga sama. Kesempatan saat dia menatapku, kemudian akan kubalas dengan tatapan penuh harapan kalau aku juga mengharapkannya. Kesempatan saat dia tersenyum kepadaku, lalu kupasang senyuman penuh arti agar dia tau rasaku untuknya penuh dengan makna. Tapi itu hanya inginku. Sebuah keinginan besar yang tentunya sangat mustahil untuk ku wujudkan.

Aku ingin menyimpannya, sebuah perasaan yang tidak terungkapkan ini. Tapi kadang aku bertanya untuk apa aku mengingatnya, untuk apa aku menyimpannya yang justru hanya bisa membuatku terpuruk tanpa alasan. 
Yang ingin kulakukan sekarang hanyalah mengungkapkan, soal jawaban aku sudah tidak begitu peduli. Pikirku yang penting aku bisa memberitahunya kalau rasa ini hanya untuknya. Yang ku inginkan hanya dia, tapi hanya Tuhan yang tau kelak aku bersamanya atau tidak. Aku tak ingin memaksakan takdir. Kebahagiaan itu miliknya. Akan kulihat kamu dari kejauhan sana. 

Untuk kamu yang tidak kusebutkan namanya.




0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2012 Ujung Pena Sang Penikmat KehidupanTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.